III. Mengasah
sisi samping (Diameter Luar).
Dengan
menggunakan batu gerinda cup wheels, sisi samping
cutter digerinda agar mempunyai sisi potong yang tajam pada saat melakukan
gerak pemakanan samping.
1. Masih dalam
satu settingan pada pengerindaan sebelumnya, atur sudut (no.4) membentuk sudut
90°.
2. Melepas pin
(no.26) sehingga handle (no.28) dapat berputar dengan bebas.
3. Mengatur
ketinggian batu gerinda (no.11) sehingga satu center pada cutter.
4. Mengatur
stopper (no.8), usahakan seluruh sisi samping pada cutter terasah semua.
5. Dengan
menggerakkan handle (no.9) ke kiri dan ke kanan, dan melakukan gerak pemakanan
(no.10) dan memutar handle (no.28).
6. Usahakan
jangan melakukan pemakanan terlalu banyak karena menyebabkan pengurangan
diameter cutter
Langkah kerja
pengasahan pahat bubut
Dengan
menggunakan batu gerinda cup wheels, dan menggunakan sistem
pencekaman pahat dengan tanggem.
1. Cekam pahat
dengan tanggem, usahakan posisi pahat sejajar/lurus dengan tanggem.
2. Mengatur
stopper dan ketinggian batu gerinda terhadap pahat, usahakan satu center!
3. Mengasah
permukaan bidang A, perhatikan sudut-sudutnya! (lihat gbr. tampak atas dan
samping).
4. Mengasah
permukaan bidang B, perhatikan sudut-sudutnya! (lihat gbr. tampak depan).
5. Mengasah
permukaan bidang C, perhatikan sudut-sudutnya! (lihat gbr. tampak depan dan
atas).
4. Meratakan permukaan Cutter:
Dengan
menggunakan batu gerinda flat wheels, sudut-sudut sisi potong pada
cutter akan di-nol-kan. Berikut ini langkah-langkah yang harus dilaksanakan:
1. Pasang
cutter pada collet yang sesuai dan dipasang pada poros utama.
2. Mengatur
sudut-sudut (no.4 dan 25) sehingga menunjukkan angka nol pada skala, posisi
cutter tegak lurus pada batu gerinda.
3. Mengatur
ketinggian batu gerinda (no.11) sampai satu center dengan cutter.
4. Mengatur
stopper (no.8) sedemikian rupa sehingga permukaan cutter mengenai batu gerinda
tepat setengah diameternya.
5. Melepas pin
(no.26) sehingga dapat memutar handle (no.28) secara bebas.
6. Melakukan
gerak pemakanan dengan memutar handle (no.28) dan juga memutar handle (no.10)
sampai permukaan cutter rata.
5. Mengasah sisi
potong Cutter:
Dengan
menggunakan batu gerinda cup wheels, sudut-sudut sisi potong pada
cutter akan dibentuk kembali. Dimana cutter masih dalam satu settingan pada
saat meratakan permukaan cutter.
1. Dengan
menggunakan pin (no.26) untuk menahan skala (no.27).
2. Catatan:
perhatikan jumlah mata potong pada cutter!!!
3. Mengatur
sudut (no.4) sehingga .°membentuk sudut
2-3
4. Mengatur
sudut (no.25) sehingga .°membentuk sudut
10-15
5. Mengatur
ketinggian batu gerinda (no.11) sampai satu center dengan cutter.
6. Mengatur
stopper (no.8), usahakan agar gerak pemakanan mencapai garis tengah pada
cutter.
7. Melakukan
gerak pemakanan dengan memutar handle (no.10) sambil menggerakkan handle (no.9)
kekiri dan kekanan, sehingga permukaan sisi potong terasah semua.
8. Setelah
mencapai kedalaman pemakanan tertentu pada skala, lepas pin (no.26) dan memutar
skala (no.27) sesuai dengan jumlah mata potong pada cutter.
9. Ulangi
langkah No.4, sampai semua sisi mata potong terasah semua.
, dan ulangi°10. Kembali mengatur sudut (no.25)
hingga membentuk 6-8 kembali langkah No.3-6.
11. Untuk
menge-cek apakah mata cutter sudah terasah dengan baik dan mempunyai ketinggian
yang sama satu dengan yang lain, gunakan block dengan permukaan yang rata, dan
letakkan cutter tegak lurus dengan permukaan bidang tersebut.
6. Mengasah sisi
samping (Diameter Luar).
Dengan
menggunakan batu gerinda cup wheels, sisi samping
cutter digerinda agar mempunyai sisi potong yang tajam pada saat melakukan
gerak pemakanan samping.
1. Masih dalam
satu settingan pada pengerindaan sebelumnya, atur sudut .°(no.4) membentuk sudut 90
2. Melepas pin
(no.26) sehingga handle (no.28) dapat berputar dengan bebas.
3. Mengatur
ketinggian batu gerinda (no.11) sehingga satu center pada cutter.
4. Mengatur
stopper (no.8), usahakan seluruh sisi samping pada cutter terasah semua.
5. Dengan
menggerakkan handle (no.9) ke kiri dan ke kanan, dan melakukan gerak pemakanan
(no.10) dan memutar handle (no.28).
6. Usahakan
jangan melakukan pemakanan terlalu banyak karena menyebabkan pengurangan
diameter cutter.
7. UPAYA MENCEGAH KECELAKAAN KERJA.
1.DALAM PENGGUNAAN MESIN GERINDA
A. Umum. Keselamatan kerja perlu mendapat perhatian, karena pada saat bekerja roda gerinda berputar sangat tinggi. Pecahnya roda gerinda akibat kesalahan operasi dan pemeriksaan kondisi roda gerinda yang tidak cermat dapat mencelakakan operator.
B. Pencegahan Kecelakaan Kerja. Kecelakaan akibat kerja dapat dicegah dengan :
1. Standarisasi, yaitu penetapan standar-standar resmi, setengah resmi atau tak resmi mengenai misalnya konstruksi yang memenuhi syarat-syarat keselamatan jenis peralatan tertentu, praktek-praktek keselamatan dan higiene umum, atau alat-alat perlindungan diri.
2. Pengawasan, yaitu pengawasan tentang dipatuhinya ketentuan-ketentuan yang diwajibkan.
3. Penelitian bersifar teknik, yang meliputi sifat dan ciri-ciri bahan-bahan yang berbahaya, pengujian alat-alat perlindungan diri, penelitian tentang pencegahan peledakan gas dan debu, atau penelaahan tentang bahan-bahan dan desain paling tepat untuk tambang-tambang pengangkat dan peralatan pengangkat lainnya.
4. Riset medis, yang meliputi terutama penelitian tentang efek-efek fisiologis dan patologis faktor-faktor lingkungan dan teknologis, dan keadaan-keadaan fisik yang mengakibatkan kecelakaan.
5. Penelitian psikologis, yaitu penyelidikan tentang pola-pola kejiwaan yang menyebabkan terjadinya kecelakaan.
6. Penelitian secara statistik, untuk menetapkan jenis-jenis kecelakaan yang terjadi, banyaknya , mengenai siapa saja, dalam pekerjaan apa, dan apa sebab-sebabnya.
7. Pendidikan, yang menyangkut pendidikan keselamatan dalam kurikulum teknik, sekolah-sekolah atau kursus-kursus pertukangan.
8. Latihan-latihan, yaitu latihan praktek bagi operator, khususnya yang baru, dalam keselamatan kerja.
2. Alat – alat keselamatan yang diperlukan selama menggunakan mesin gerinda adalah sebagai berikut:
1.DALAM PENGGUNAAN MESIN GERINDA
A. Umum. Keselamatan kerja perlu mendapat perhatian, karena pada saat bekerja roda gerinda berputar sangat tinggi. Pecahnya roda gerinda akibat kesalahan operasi dan pemeriksaan kondisi roda gerinda yang tidak cermat dapat mencelakakan operator.
B. Pencegahan Kecelakaan Kerja. Kecelakaan akibat kerja dapat dicegah dengan :
1. Standarisasi, yaitu penetapan standar-standar resmi, setengah resmi atau tak resmi mengenai misalnya konstruksi yang memenuhi syarat-syarat keselamatan jenis peralatan tertentu, praktek-praktek keselamatan dan higiene umum, atau alat-alat perlindungan diri.
2. Pengawasan, yaitu pengawasan tentang dipatuhinya ketentuan-ketentuan yang diwajibkan.
3. Penelitian bersifar teknik, yang meliputi sifat dan ciri-ciri bahan-bahan yang berbahaya, pengujian alat-alat perlindungan diri, penelitian tentang pencegahan peledakan gas dan debu, atau penelaahan tentang bahan-bahan dan desain paling tepat untuk tambang-tambang pengangkat dan peralatan pengangkat lainnya.
4. Riset medis, yang meliputi terutama penelitian tentang efek-efek fisiologis dan patologis faktor-faktor lingkungan dan teknologis, dan keadaan-keadaan fisik yang mengakibatkan kecelakaan.
5. Penelitian psikologis, yaitu penyelidikan tentang pola-pola kejiwaan yang menyebabkan terjadinya kecelakaan.
6. Penelitian secara statistik, untuk menetapkan jenis-jenis kecelakaan yang terjadi, banyaknya , mengenai siapa saja, dalam pekerjaan apa, dan apa sebab-sebabnya.
7. Pendidikan, yang menyangkut pendidikan keselamatan dalam kurikulum teknik, sekolah-sekolah atau kursus-kursus pertukangan.
8. Latihan-latihan, yaitu latihan praktek bagi operator, khususnya yang baru, dalam keselamatan kerja.
2. Alat – alat keselamatan yang diperlukan selama menggunakan mesin gerinda adalah sebagai berikut:
: a. Masker, digunakan
untuk melindungi pernafasan kita pada saat melakukan penggerindaan, terutama
pada saat melakukan dressing.
b. Kacamata, untuk melindungi mata dari percikan bunga api dan debu pada saat penggerindaan.
c. Bevel protector, alat yang digunakan untuk mengukur sudut pada alat potong setelah melakukan penggerindaan.
d. Surface plate, alat yang digunakan untuk melihat kerataan atau ketinggian pada mata cutter, berupa alat yang mempunyai permukaan sangat rata dan halus.
e. Caliper, digunakan untuk mengukur sebuah dimensi, biasanya dipakai untuk membuat pahat ulir.
f. Dresser, merupakan batu diamond yang digunakan untuk membersihkan batu gerinda yang kotor.
g. Kunci “L” dan kunci pas, untuk mengatur sudut-sudut pada alat potong yang akan digerinda.
3. Selama roda gerinda berputar, posisi operator tidak boleh berada pada bidang perputaran roda gerinda. Beberapa langkah keselamatan kerja mesin gerinda antara lain :
a. Selalu periksa kondisi roda gerinda dari keretakan. Ketuk roda gerinda dengan tangkai obeng, bila suaranya nyaring berarti baik, dan sember beararti ada keretakan.
b. Jaga kecepatan roda gerinda sesuai ketentuan tabel kecepatan pada mesin tersebut.
c. Pastikan benda kerja, kepala lepas, pencekam dan peralatan yang lain sudah pada posisi yang benar.
d. Gunakan roda gerinda sesuai dengan jenis kerja dan benda kerjanya.
e. Jangan memakankan (to feed) terlalu cepat benda kerja antara dua senter kemungkinan akan tertekan dan dapat merusakkan benda kerja dan roda gerindanya.
b. Kacamata, untuk melindungi mata dari percikan bunga api dan debu pada saat penggerindaan.
c. Bevel protector, alat yang digunakan untuk mengukur sudut pada alat potong setelah melakukan penggerindaan.
d. Surface plate, alat yang digunakan untuk melihat kerataan atau ketinggian pada mata cutter, berupa alat yang mempunyai permukaan sangat rata dan halus.
e. Caliper, digunakan untuk mengukur sebuah dimensi, biasanya dipakai untuk membuat pahat ulir.
f. Dresser, merupakan batu diamond yang digunakan untuk membersihkan batu gerinda yang kotor.
g. Kunci “L” dan kunci pas, untuk mengatur sudut-sudut pada alat potong yang akan digerinda.
3. Selama roda gerinda berputar, posisi operator tidak boleh berada pada bidang perputaran roda gerinda. Beberapa langkah keselamatan kerja mesin gerinda antara lain :
a. Selalu periksa kondisi roda gerinda dari keretakan. Ketuk roda gerinda dengan tangkai obeng, bila suaranya nyaring berarti baik, dan sember beararti ada keretakan.
b. Jaga kecepatan roda gerinda sesuai ketentuan tabel kecepatan pada mesin tersebut.
c. Pastikan benda kerja, kepala lepas, pencekam dan peralatan yang lain sudah pada posisi yang benar.
d. Gunakan roda gerinda sesuai dengan jenis kerja dan benda kerjanya.
e. Jangan memakankan (to feed) terlalu cepat benda kerja antara dua senter kemungkinan akan tertekan dan dapat merusakkan benda kerja dan roda gerindanya.
f. Stop seluruh
motor penggerak sebelum mengatur atau menyetel mesin gerinda.
g. Ketika mengasah roda gerinda (dressing / truing) pastikan intan pengasah terletak pada posisi yang kuat dan benar.
h. Jangan memeriksa dimensi (pengukuran) selama benda kerja sedang digerinda.
g. Ketika mengasah roda gerinda (dressing / truing) pastikan intan pengasah terletak pada posisi yang kuat dan benar.
h. Jangan memeriksa dimensi (pengukuran) selama benda kerja sedang digerinda.

0 komentar:
Posting Komentar